Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) mengundang beberapa penerbit Al-Qur'an ikut serta dalam sidang reguler pentashihan. Sebuah inovasi kegiatan baru yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya.

Menurut Deni Hudaeni, Kabid Pentashihan, "Ada beberapa tujuan kita mengundang penerbit. Pertama, agar penerbit bisa melihat langsung seluruh proses sidang reguler pentashihan. Kedua, kita ingin membina secara khusus penerbit yang naskahnya sedang ditashih. Ketiga, kita ingin mendengar secara langsung apa kendala-kendala yang dialami penerbit dalam proses penyiapan naskah, dan terakhir untuk menjaring masukan bagaimana pelayanan Lajnah selama ini," jelasnya di Bogor (23/10) pagi hari.

Menanggapi pernyataan itu, Mahfan, perwakilan Penerbit Pustaka Jaya Ilmu menyampaikan, "Terus terang saya agak kaget, pertama kali menerima undangan dari Lajnah untuk ikut serta dalam sidang reguler. Ini adalah sesuatu yang baik, untuk membina hubungan kerja sama antara Lajnah dan penerbit Al-Qur'an." Demikian ungkapnya.

Menurut Mahfan, mushaf Al-Qur'an adalah suatu produk yang tidak ada matinya. Semua penerbit berlomba-lomba memproduksi, meski margin keuntungannya tidak banyak. "Kita hanya mencari barokahnya saja," candanya.

Maraknya dunia penerbitan Al-Qur'an menjadikan penerbit beradu kreativitas memproduksi Al-Qur'an. Di sisi lain, penerbit juga terikat etika untuk tidak menduplikasi hasil kreasi penerbit lainnya. Oleh karena itu, ragam Al-Qur'an bermunculan di pasaran, sangat banyak variasinya.  "Tak jarang, variasi model Al-Qur'an ini justru membingungkan masyrakat," ungkap Mahfan.

Dia mengusulkan agar Lajnah bisa mengeluarkan regulasi yang ketat dan tegas terkait hal ini, agar masyarakat tidak kebingungan dan Lajnah tidak kerepotan. "Kreativitas memang tidak terbatas, namun  tidak boleh seenaknnya dan kebablasan," ujarnya filosofis.

Hal lain yang diharapkan penerbit dari Lajnah adalah soal kecepatan pelayanan pentashihan. Ini sering dikeluhkan penerbit, karena terkait biaya produksi. Selain itu, agar Lajnah responsif bila ada isu-isu soal Al-Qur'an. "Isu tentang Al-Qur'an palsu sangat merugikan penerbit. Ketika isu beredar, tiba-tiba saja sekian edisi Al-Qur'an yang sudah beredar di masyarakat tidak laku. Ini sangat merugikan penerbit," imbuh Mahfan.

Pelayanan LPMQ selama ini dinilainya sudah baik. Terkait agak lambatnya proses pentashihan, hal itu bisa dimaklumi, karena memang harus dibaca secara teliti dan tidak boleh terburu-buru. Respon Lajnah terhadap isu-isu kontemporer Al-Qur'an juga sudah baik. Mahfan berharap, tren positif ini terus dilanjutkan dan ditingkatkan. [bp].

Temuan kesalahan pada mushaf Al-Qur'an yang beredar sebaiknya tidak diviralkan di media sosial, tetapi dilaporkan kepada pihak berwenang. Pesan ini disampaikan oleh Muchlis M. Hanafi, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Jumat (19/09/2018).

Kegiatan Halaqah Al-Qur'an dan Kebudayaan Islam yang diselenggarakan oleh Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal (BQMI) diikuti mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Pada forum ini dijelaskan bahwa mushaf Al-Qur'an yang beredar di masyarakat harus melalui proses pentashihan dan melampirkan Tanda Tashih dari Kementerian Agama melalui LPMQ.

Terdapatnya kesalahan mushaf Al-Qur’an yang sudah mendapat Tanda Tashih masih bisa terjadi saat proses pencetakan. Setelah dipastikan tidak ada kesalahan master, yang menjadi masalah adalah pada proses pencetakan, baik karena mesin cetak ataupun human eror karena pekerja kelelahan, misalnya. “Jadi, kalau menemukan kesalahan pada mushaf Al-Qur'an, laporkan pada kami, jangan diviralkan, biar tidak terjadi kegaduhan di masyarakat. Kami akan menindaklanjuti laporan masyarakat,” tegas Muchlis.

Salah satu mahasiswa menanyakan Al-Qur’an apa saja yang ditashih oleh LPMQ. Berdasarkan perkembangan saat ini, mushaf Al-Qur’an yang beredar tidak hanya mushaf Al-Qur’an cetak dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Selain itu, saat ini banyak juga aplikasi Al-Qur’an. Mahasiswa lainnya bertanya, “Dalam situasi saat ini, di mana ayat Al-Qur’an maupun terjemahannya disalahartikan untuk kepentingan sendiri ataupun kelompok, di mana peran LPMQ?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Muchlis M. Hanafi, Kepala LPMQ, menjelaskan bahwa untuk mushaf Al-Qur'an yang dicetak dan diterbitkan di dalam negeri diberi Tanda Tashih. Sedangkan Mushaf Al-Qur’an yang dicetak di luar negeri dan masuk di Indonesia, pihak Bea Cukai akan menghubungi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. “Setelah kita periksa dan sesuai, baru kita keluarkan Surat Izin Edar. Sedangkan untuk aplikasi atau Al-Qur’an digital, kita sudah menginventarisasi ada sekitar 250 aplikasi. Sampai saat ini, baru ada beberapa penglola aplikasi yang mentashihkan kepada kami sebelum me-launching,” paparnya.

Terkait terjemahan Al-Qur’an ataupun ayat Al-Qur’an yang disalahartikan atau disalahpahami, Muchlis memaklumi. Menurutnya, bahasa di dunia ini terlalu miskin untuk menerjemahkan Al-Qur’an. Ia mencontohkan bahwa ada masyarakat yang berkata, ‘Ayolah Ustadz, kembali ke Al-Qur’an saja, tidak usah mengikuti ulama ini itu, biar nggak bingung’. “Tetapi, ketika ditemukan perbedaan terjemahan dengan yang biasa dipakai oleh sebagian kelompok, maka disebarkanlah bahwa Al-Qur’an ini palsu,” ujar Kepala Lajnah.

“Bagaimana mau kembali hanya kepada Al-Qur’an? Satu kata dalam Al-Qur’an bisa ditemukan 30-an makna yang berbeda dari mufasir. Oleh karena itu, jangan biarkan masyarakat kita hanya memahami Al-Qur’an dari terjemahan, karena terjemahan bukan Al-Qur’an itu sendiri,” tutup Muchlis. [Ibnu A’thoillah]

Tim Pakar kajian penyempurnaan terjemahan Al-Qur'an Kemenag telah merampungkan tugasnya mengkaji dan menyempurnakan terjemahan Al-Qur'an 30 juz di Bogor (16/10), siang hari ini.

Abdul Aziz Sidqi, Kepala Bidang Kajian dan Pengembangan Al-Qur'an LPMQ mengatakan, "Sidang penyempurnaan terjemahan ini adalah yang ke-8. Tim pakar membahas juz 29 dan juz 30 yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A membas surah al-Jin sampai dengan surah al-Takwir, sedangkan kelompok B membahas surah al-Infithar sampai dengan surah al-Nas", jelasnya. 

Sidang kajian penyempurnaan terjemahan Al-Qur'an Kemenag telah memasuki tahap akhir. Dari sekian pembahasan yang dicermati oleh tim pakar adalah penulisan kata atau kalimat dalam tanda kurung sebagai keterangan tambahan.

Kata dalam tanda kurung diletakkan tepat di belakang sebuah kata dalam terjemahan yang dikhawatirkan tidak dipahami maksudnya. Sebagai kata penjelas tambahan, tentu saja tidak ada cantolan redaksi tekstualnya dalam ayat Al-Qur'an.

Menurut Prof. Rosihon Anwar, MA, "Terkait penambahan kata dalam kurung, ada dua hal yang kemungkinan terjadi. Pertama, tim menambah keterangan. Kedua, tim menghapus keterangan terdahulu, karena dianggap sudah jelas." Demikian ungkap pakar tafsir dari UIN Bandung tersebut.  

 

Presiden Republik Singapura, Mdm Halimah Yaqub membuka pameran, 12 Oktober 2018.

Bayt Al-Quran & Museum Istiqlal (BQMI) yang dikelola Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) berpartisipasi dalam perhelatan pesta budaya Melayu yang diselenggarakan oleh The Malay Heritage Center (Taman Warisan Melayu), Singapura, selama beberapa bulan ke depan.

Pameran dibuka dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Singapura, Mdm Halimah Yaqub pada Jumat malam, 12 Oktober 2018 di kawasan Masjid Sultan. Pesta budaya Melayu kali ini bertemakan “Undangan ke Baitullah; Sejarah Haji dari Dunia Melayu ke Mekkah”. Pameran menyajikan sejarah, jaringan sosial-ekonomi dan tradisi budaya terkait perjalanan haji dari tanah Melayu menuju tanah suci Mekkah.

Tidak kurang dari seratus koleksi dari lima negara (Singapura, Brunei, Malaysia, Belanda/Leiden dan Indonesia/BQMI) dipamerkan. BQMI meminjamkan 19 koleksi yang terdiri dari artefak perhajian. Koleksi tersebut dipilih karena memiliki nilai sejarah, budaya dan material yang sangat tinggi terkait perhajian.

Lokasi Taman Warisan Melayu Singapura dahulu adalah Istana Kampong Gelam. Pameran ini memaparkan peran penting Kampong Gelam sebagai bandar pelabuhan utama di mana umat Islam dari seluruh Nusantara berkumpul dan mempersiapkan diri untuk menunaikan haji dengan menaiki kapal ke Mekkah pada akhir abad ke-19 hingga awal tahun 1970-an.

Selain pameran perhajian, pesta budaya Melayu ini menampilkan berbagai pentas seni budaya dan kuliah umum tentang budaya dan tradisi haji di Nusantara. Keikutsertaan BQMI dalam perhelatan ini merupakan bagian dari upaya memperluas jaringan dalam mengenalkan tradisi Islam di kawasan Nusantara. [MMH]