Medan (09/10/2018) - Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal (BQMI) yang berada di bawah pengelolalan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI turut serta dalam pameran dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional XXVII yang diselenggarakan di Medan. Tema yang diangkat pada pameran ini “Mengenal Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia” (MSI).

“Melalui pameran dengan tema tersebut, BQMI ingin memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang apa itu MSI, kenapa harus ada MSI, latar belakang dan sejarah lahirnya MSI, serta apa perbedaannya dengan mushaf yang lain,” ujar Kepala Seksi Koleksi dan Pameran LPMQ, Syaifuddin.

Menurut Dr. Muchlis M. Hanafi selaku Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, sangat penting untuk memperkenalkan MSI kepada masyarakat luas, terutama para akademisi, praktisi dan para tokoh masyarakat se-Indonesia yang turut hadir dalam arena MTQN. Karena meskipun MSI sudah ditetapkan oleh pemerintah sejak 1983 namun hingga saat ini kebanyakan masyarakat belum kenal betul atau bahkan tidak tau sama sekali tentang MSI.

“Dengan adanya program seperti ini, masyarakat tidak mudah saling menyalahkan atau membanding-bandingkan dengan mushaf yang lain mana yang sesuai dengan kaidah rasm usmani dan mana yang tidak,” kata Dr. Muchlis M. Hanafi saat berkunjung di stan pameran BQMI.

Stan pameran BQMI berada di urutan nomor 113, di deretan stan Kementerian Agama. Adapun koleksi yang dipamerkan di antaranya Mushaf Al-Qur’an kuno dan cetak pra-MSI, mushaf standar usmani, mushaf standar bahriyah dan mushaf standar Braille.

Selain itu, BQMI juga menampilkan contoh master cetak Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani dan Bahriyah, serta master MSI pojok yang sedang dalam proses penulisan oleh khattat Isep Misbah. Dalam kunjungannya ke stan BQMI, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, mengungkapkan kekagumannya atas keindahan dan kehalusan goresan tangan Isep Misbah ini. Ia pun berharap penulisannya segera selesai.

“Semoga proses penulisan ulang yang yang saat ini baru sampai 26 juz bisa segera dirampungkan, sehingga tahun 2019 bisa secara resmi diterbitkan oleh Kementerian Agama,” pungkas Menag.