Jakarta (04/03/2018) - Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI) menyelenggarakan Halaqah Al-Qur’an dan Kebudayaan Islam (HAKI) di ruang Audiovisual BQMI. Peserta Halaqah dari organisasi masyarakat Pimpinan Pusat Pemudi Persatuan Islam (PP Persis), Bandung. Kegiatan ini digelar sebagai program edukasi museum kepada masayrakat yang merupakan salah satu fungsi museum.

Kepala Bidang Bayt Al-Qur’an dan Dokumentasi, Hj. Nani Sutiati, S.Pd., MM., hadir sebagai narasumber sekaligus membuka kegiatan Halaqah ini. Ia menjelaskan tentang BQMI yang berupaya untuk berinovasi dalam menyelenggarakan edukasi kepada masyarakat, baik dengan pameran tetap di museum, pameran keliling, maupun kegiatan lainnya. Halaqah ini hadir sebagai salah satu upaya tersebut.

Pada Halaqah ini dijelaskan tentang BQMI yang akan menyelenggarakan halaqah dalam beberapa bentuk kegiatan seperti seminar, workshop, pelatihan, dongeng, dan sebagainya. Bentuk pelaksanaan yang berbeda ini disesuaikan dengan materi dan auidens dalam kegiatan.

“Nanti kita akan menyelenggarakan Halaqah tentang Al-Qur’an yang diselenggarakan dalam bentuk seminar, pelatihan desain islami, dongeng islami untuk anak-anak, dan sebagainya. Kita akan bekerjasama dengan lembaga terkait yang akan kita sesuaikan dengan program edukasi kami ini,” jelasnya.

Kegiatan Halaqah yang diselenggarakan kali ini diawali dengan pemutaran film berjudul “Perkembangan Penyalinan Mushaf Al-Qur’an dari Masa ke Masa”. Film ini mengupas proses perkembangan Al-Qur’an sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang kemudian tersebar melalui hafalan para Sahabat dan berkembang dalam bentuk mushaf yang digunakan masyarakat saat ini.

Narasumber kedua, Kepala Seksi Koleksi dan Pameran, Syaifuddin, MA.Hum, memaparkan tentang film yang sudah ditonton oleh peserta Halaqah. Ia menjelaskan bahwa pada masa awal, Al-Qur’an hanya dihafalkan oleh para Sahabat. Kemudian Islam yang terus menyebar sampai di wilayah bukan Arab akhirnya memunculkan perbedaan-perbedaan tertentu yang meresahkan. Selain itu, banyaknya penghafal Al-Qur’an yang meninggal pada Perang Yarmuk juga menambah kekhawatiran tersebut. Oleh karena itu, dibentuklah tim untuk menuangkan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan.

Setelah itu, berkembanglah penyalinan mushaf Al-Qur’an yang kemudian tidak hanya bentuk hurufnya yang berkembang, tetapi juga tanda baca. Dengan perkembangan ini, umat Islam di seluruh dunia lebih mudah membaca Al-Qur’an.

“Yang kita baca untuk mengaji Al-Qur’an itu disebut dengan mushaf yang berarti lembaran. Tanda baca berupa fathah, kasroh, dhammah, sukun, waqaf, washal dan lainnya itu muncul sebagai bagian dari perkembangan penulisan, tidak mucul sekaligus pada saat al-Qur’an diturunkan,” papar Kepala Seksi Koleksi dan Pameran.