Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) menyelenggarakan kegiatan desiminasi hasil kajian Al-Qur’an di Pondok Modern Mawaridussalam, Deli Serdang, Medan. Mengawali uraiannya, Dr. Muchlis M Hanafi, MA, selaku Kepala LPMQ menyampaikan data bahwa 50% dari pemeluk agama Islam di dunia ini mengalami buta huruf Al-Qur'an. Belum lagi soal pemaknaannya, soal pemahamannya, tentu lebih besar lagi.

Melanjutkan uraiannya, Muchlis megutip definisi literasi dari KBBI, yaitu “kemampuan menulis dan membaca pengetahuan sekaligus kemampuan individu dalam mengolah informasi untuk kecakapan hidup.”

 

Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam, Buya Syahid Marqum, merasa gembira dengan diselenggarakannya kegiatan diseminasi hasil kajian Al-Qur’an oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) di pesantren yang diasuhnya. Di hadapan Kepala LPMQ, Dr. Muchlis M Hanafi MA, beserta 120 orang undangan terdiri atas tokoh masyarakat, ulama dan santri pondok pesantren di sekitar Medan. Kiai dengan 1600 santri ini mengungkapkan, "Atas nama pimpinan pesantren saya sangat berbunga hati atas kehadiran antum semua. Para penjaga Al-Qur'an, yang mempunyai tanggung jawab berat, dunia-akhirat, mengawal kalamullah di ruang publik Indonesia,"  ujarnya di Medan, Selasa (30/10) pagi hari.

Cirebon, 25/10/2108. “Penelitian dan kajian mushaf kuno Nusantara yang dilakukan LPMQ memiliki peran yang penting. Hasil dari penelitian tersebut diharapkan bisa dikapitalisasi menjadi karya yang memiliki nilai manfaat di tengah masyarakat.” Demikian disampaikan kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Dr. H. Muchlis M. Hanafi, MA dalam sambutannya pada acara workshop manuskrip Al-Qur’an Nusantara kerja sama LPMQ dengan IAIN Syekh Nurjati, Cirebon.

Workshop ini diselenggrakana pada Kamis, 25 Oktober 2018 di Ruang Auditorium Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUSA) IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Acara ini dibuka langsung oleh Rektor IAIN Syekh Nurjati, Dr. H. Sumanta, M.Ag dan dihadiri oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSA) dan segenap pejabat, dosen, dan mahasiswa. Dalam sambutannya, Sumanta mengatakan bahwa semestinya civitas akademika IAIN memiliki kesadaran sejarah, dan bisa belajar bagaimana mengkaji manuskrip Al-Qur’an Nusantara dan mengambil manfaat darinya. Manuskrip itu, lanjut Sumanta, besentuhan dengan daerah, budaya dan lingkungan sekitarnya, sehingga sangat disayangkan jika manuskrip itu sampai bermigrasi ke daerah atau bahkan negara lain. Melalui kerja sama ini diharapkan civitas akademika IAIN Syekh Nurjati memiliki perhatian dan memiliki kurioritas yang tinggi untuk melakukan kajian terhadap manuskrip Al-Qur’an Nusantara, khsusunya yang ada di Cirebon, terutama untuk menjaga warisan ulama masa lalu.

Bertindak sebagai pengisi materi pada acara ini adalah Dr. H. Adib, M.Ag (IAIN Syekh Nurjati) yang mengangkat tema “Kajian Mushaf Kuno di Cirebon: Potensi dan Prospeknya”, H. Zarkasi, MA (Peneliti LPMQ), “Tradisi Penyalinan Mushaf Kuno di Kawasan Cirebon”, dan Dr. H. Zainal Arifin, MA (Peneliti LPMQ) tentang “Metode Penelitian Manuskrip Al-Quran.” Tema-tema ini diangkat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti LPMQ selama beberapa tahun.

Diharapkan dari penelitian dan penyelenggaran workshop ini muncul rasa kurioritas di kalangan mahasiswa atau penggiat kajian Al-Qur’an untuk mengkaji manuskrip Al-Qur’an Nusantara sebagai warisan ulama masa lalu yang sangat penting dan berharga. [Mustopa]

 

 

 

 

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menggelar acara Pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an bekerja sama dengan Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuludin dan Studi Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) di Aula Kampus II UIN Sumatera Utara, Medan, 29 Oktober 2018.

"Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kepada dosen, mahasiswa, dan  masyarakat tentang Mushaf Standar Indonesia dan keilmuan yang terkait dengan pentashihan. Diikuti oleh 200 peserta, terdiri dari dosen dan mahasiswa IAT Fakultas Ushuludin UIN SU Medan,"  ujar Kepala Bidang Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Deni Hudaeny, di Medan.

Kepala LPMQ Muchlis M Hanafi  dalam sambutannya menyampaikan bahwa pembinaan ini penting karena apa yang dilakukan oleh para  pentashih walaupun sepintas hanya memeriksa  mushaf yang akan dicetak, tetapi di baliknya  ada perangkat keilmuan yang sangat terkait dengan  konsen perguruan tinggi Islam, khususnya program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuludin, yaitu ilmu rasm, ilmu  dhabt, dan ilmu waqaf ibtida’.

Sementara itu, Wakil Rektor III UIN SU Medan Amroeni Drajat berterimah kasih dan menyambut baik Pembinaan Pentashihan Mushaf al-Qur'an di UIN SU Medan. "Kami  serasa mendapat  durian runtuh, karena  yang datang adalah para  ahli dari Jakarta  untuk sosialisasi mushaf Al-Qur’an," ujar Amroeni. Ia berharap para dosen dan  mahasiswa bisa mencatat semua informasi dari ahlinya dan menyebarkannya ke masyarakat. “Jangan sampai mahasiswa atau dosen mempunyai pendapat seperti orang yang tidak mengerti ulumul-Qur'an,” ujarnya. (ANQ)

 

Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an (LPMQ) Muchlis M Hanafi menyampaikan enam langkah yang harus diprioritaskan terkait kerja pentashihan dalam Sidang Reguler Pentashihan di Bogor 22 - 24 Oktober 2018.

Pertama, tertib administrasi. "Semua kegiatan harus dituangkan dalam bentuk laporan, siapa yang mengikuti kegiatan, siapa mengerjakan apa. Prisipnya, tulis apa yang Anda kerjakan, dan kerjakan apa yang Anda tulis," urai Muchlis di Bogor, Senin (22/10) malam. "Tertib administrasi seperti ini adalah salah satu wujud keberhasilan dalam pelaksanaan tata kelola pemerintahan," imbuhnya.

Kedua, memperkuat dan menegakkan regulasi pentashihan, terkait masa berlaku tanda tashih yang sudah ditetapkan 'berlaku untuk dua tahun, dan aturan mentashih ulang pada setiap naskah Al-Qur`an yang akan dicetak  ulang  lagi. "Fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap penerbit dan peredaran mushaf menjadi penting dalam penegakan regulasi ini," serunya mengingatkan.

Ketiga, meningkatkan kompetensi para pentashih, karena tugas mentashih tidak sekadar membaca, corat-coret perbaikan, tetapi harus diiringi dengan meningkatkan pengetahuan dalam ilmu rasm, dhabt, waqaf ibtida, asbab nuzul, dan lain-lain. LPMQ  berkomitmen, setiap tahun akan mengirim para pentashih untuk belajar ke luar negeri, menimba ilmu secara langsung dari para masyayikh Al-Qur'an Timur Tengah. "Peningkatan kompetensi pentashih ini penting. Tantangan kita ke depan semakin berat. Banyak hal harus kita selesaikan, di antaranya,  mengembangkan sistem tanda baca dan tanda waqaf dalam Al-Qur`an," jelasnya meyakinkan.

Keempat, membangun dan memperkuat sistem informasi data terkait berapa jumlah mushaf yang beredar, berapa kebutuhan mushaf  dalam setahun, dan data mushaf yang dicetak oleh penerbit dalam setahun. "Data ini penting untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa yang kita awasi itu jutaan mushaf yang beredar di Indonesia, bukan sekedar tanda tashih yang hanya 200-300-an. Data ini sekaligus akan menjadi acuan dasar kita membuat kebijakan," urai Muchlis menambahkan.

Kelima, kapitalisasi pengetahuan terkait mushaf Al-Qur`an agar menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia akademik dan masyarakat. Pentashih harus mengkapitalisasi pengetahuan tentang ilmu rasm, dhabt dan waqaf ibtida` menjadi sebuah pengetahuan. Pengetahuan seputar keilmuan ini jarang dibahas, padahal beririsan kuat dengan mata pelajaran Jurusan Al-Qur`an dan Hadis.

Keenam, memperkuat argumen Mushaf Standar Indonesia dari berbagai aspeknya. "Penyusunam buku-buku argumen itu telah kita mulai; buku Makky Madani, Asbab Nuzul, Sejarah Mushaf Standar dan Fadhail Al-Qur'an. Ke depan, kita perlu melanjutkan penyusunan buku-buku ilmiah terkait rasm, dhabt, waqaf ibtida' untuk memperkuat argumen akademik Mushaf Standar," tegas Kepala Lajnah alumni al-Azhar Kairo ini di depan peserta sidang reguler pentashihan. [AnQ]