Syekh Ahmad Khatib lahir dari pasangan Abdul Latif bin Abdullah dan Limbak Urai binti Tuanku Nan Renceh pada hari Senin 6 Zulhijah 1276H/1860M di Koto Tuo Balai Gurah, Kecamatan IV Angkat Candung, Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Saudara kandungnya 5 orang dan saudara seayahnya 16 orang. Selain ibunya, ayanya juga menikah dengan Darin, Maryam, dan Asiyah. Sebagian besar saudaranya wafat saat masih kecil. Enam orang anak Abdul Latif yang hidup adalah Ahmad Khatib, Aisyah, Hafsah, Kulsum, Latifah, dan Usman.

Ahmad Khatib kecil menyukai ilmu dan ulama. Dia mulai belajar membaca Al-Qur’an kepada ayahnya di suatu lembaga (maktab) hingga usia 11 tahun (1287H) lalu berangkat ke Mekah bersama ayahnya, kakeknya, dan pamannya (Abdul Gani) untuk belajar agama dan menghafal Al-Qur’an. Di antara gurunya saat menimba ilmu di Mekah adalah Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makky, dan Syekh Abdul Hadi. Pada tahun 1292H s.d 1294H Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi pulang kampung halamannya untuk melepas kerinduan kepada ibunya. Kesempatannya di kampung halaman dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan agamanya kepada ulama lokal dan bersama mereka menerjemahkan buku-buku agama berbahasa Arab ke bahasa Jawi.

Sebagai seorang alim yang berpegang teguh dalam mazhab syafii, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi pernah menjadi imam Masjidilharam bersama Syekh Abdul Hamid Muhammad Ali Kudus. Syekh Ahmad Khatib adalah tiang tengah dari mazhab syafii pada permulaan abad ke-14. Dia menguasai ilmu fikih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, ilmu ukur, dan ilmu waris. Tidak kurang dari 49 kitab telah ditulis Syekh Ahmad Khatib dalam bahasa arab atau bahasa melayu, serta publikasinya telah tersebar hingga ke Suriah, Turki, dan Mesir.

Beberapa karya tulis Syekh Ahmad Khatib antara lain berjudul: al-Jauhar an-Naqiyah fi al-A’mal al-Jaibiyah (ilmu miqat), Raudatul Hussab fi ‘Ilmil Hisab (usul fikih), Iqna’un Nufus (zakat uang kertas), Dhau al-Siraj berbahasa Melayu (tentang isra mikraj), dan masih banyak lagi buku yang lain. Setelah sepuluh tahun menimba ilmu di Mekah, Syekh Ahmad Khatib menikah dua kali dengan dua orang putrinya Saleh Kurdi, seorang Arab pemilik toko kitab. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di Arab Saudi sehingga Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi pun wafat di Mekah pada hari Senin 8 Jumadil Awal 1334H/1916M.

 

(Harits Fadlly – Diringkas dari buku Para Penjaga Al-Qur'an, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2011)