Selain di Pulau Penyengat, manuskrip Al-Qur’an juga terdapat di Pulau Lingga. Di pulau ini jumlah manuskrip Al-Qur’an terbilang cukup banyak, terutama jika dibandingkan yang terdapat di Pulau Penyengat. Posisi geografis yang cukup jauh dari pusat kota dan pemerintahan Kepulauan Riau, membuat lalu lintas kunjungan ke Pulau Lingga tidak sebanyak ke Pulau Penyengat, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan pulau ini, seperti sejarah kesultanan, bekas reruntuhan bangunan, masjid, benda-benda peninggalan kesultanan lainnya, hingga manuskrip Al-Qur’annya, kurang dikenal luas oleh masyarakat sebagaimana Pulau Penyengat.

Manuskip Al-Qur’an yang terdapat di pulau ini sebagian besar disimpan di Museum Linggam Cahaya, yang berada dalam naungan Dinas Parawisata Pulau Lingga. Manuskrip-manuskrip ini pada mulanya disimpan oleh masyarakat setempat, hingga kemudian diserahkan kepada Museum Linggam Cahaya, di bawah Dinas Parawisata, untuk dijaga dan dipelihara. Jumlah manuskrip Al-Qur’an yang terdata seluruhnya berjumlah sepuluh buah, satu mushaf terdapat di masyarakat, Ibu maharani, dan sisanya disimpan di Museum Linggam Cahaya. Dari sembilan mushaf yang ada, hanya empat buah saja yang dipajang pada etalase pameran ruang musem karena kondisi yang masih cukup baik, dan selebihnya disimpan di lemari-lamari khusus penyimpanan manuskrip. Dari sembilan manuskrip yang dimiliki museum, ada dua mushaf yang nyaris tidak dibuka lagi lembar halamannya karena sudah menyatu, lengket dengan tinta sehingga sulit dibuka satu persatu.

Sebagian besar mushaf di pulau ini menggunakan kertas Eropa, dan hanya satu yang menggunakan kertas dluwang. Dari sisi teks, mushaf ini seluruhnya menggunakan rasm imlai dengan pengecualian pada lafa-lafaz tertentu seperti as-shalah, az-zakah, dan lain sebagainya. Qiraah yang digunakan adalah qirah Hafs ‘an ‘Asim.

Mushaf 1

Mushaf ini merupakan koleksi Museum Linggam Cahaya, Dinas Parawisata Pulau Lingga. Mushaf dengan kode 196 ini awalnya merupakan koleksi masyarakat setempat yang kemudian diserahkan kepada pegawai museum untuk dijaga dan dipelihara. Keadaan manuskrip ini sudah tidak utuh lagi, tidak ada kulit, dan juga halaman depan belakang. Setiap halaman mushaf ini terdiri dari 15 baris, dan memiliki ukuran 25 x 20 cm, tebal 2,3 cm, dan ukuran bidang teks 17 x 13 cm. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa, sementara tinta yang dipakai berwarna hitam untuk tulisan teks, dan merah untuk penandaan penandaan ayat, awal juz dan awal surah.

Mushaf 2

Manuskrip ini ditulis pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah yang berkuasa pada rentang 1883 – 1911. Sebelum dimiliki musem, mushaf ini awalnya adalah milik Bapak Sabaruddin, Kampung Bugis, Daik. Keadan manuskrip ini sudah tidak utuh, bahkan jika dibandingkan dengan mushaf yang pertama. Tidak ada kulit depan dan belakang, halaman awal maupun akhir, sisi-sisi halamannya bahkan sudah termakan sehingga bentuknya sudah tidak simetris lagi. Ukuran muhaf ini adalah 29 x 19 cm, tebal 4 cm, dengan ukuran bidang teks 20 x 12 cm. Tinta yang digunakan adalah hitam, merah dan kuning; hitam untuk teks utama, merah untuk penandaan ayat dan awal surah serta untuk garis pinggir pembatas bidang teks; tinta kuning digunakan untuk pembatas bidang teks yang dipadukan dengan tinta hitam, serta digunakan untuk ilmuminasi pada setiap penandaan nisf, rubu dan sumun. Berbeda dengan yang pertama, mushaf dengan kode 185 menggunakan rasm imlai, namun penggunaan tulisan Usmani nya lebih banyak, dan tidak terbatas pada lafaz-lafaz tertentu seperti shalat, dan lainnya. Qiraah yang digunakan adalah Hafs ‘an ‘Asim. Tanda tajwid juga sudah dipakai pada mushaf ini, seperti penandaan untuk mad wajib dan jaiz.

Mushaf 3

Muhaf dengan kode 220 ini pada mulanya dimiliki oleh Zulkifli dari Kampung Salak Daik dan diperoleh musem dengan cara dibeli. Patut disayangkan, karena mushaf ini sangat bagus, terutama dari ilmunasi berbentuk floral yang digunakan, juga kombinasi warna merah, hitam kuning keemasan dan hijau beberapa bagiannya. Warna merah, selain digunakan untuk ilumninasi, juga digunakan untuk menulis setiap lafaz Allah yang menggunakan khat naskhi seperti halnya mushaf-mushaf modern. Mushaf ini sesungguhnya masih cukup lengkap dilihat dari ketebalan halamannya, namun karena tinta yang digunakan ‘terlalu kuat’ sehingga kertas yang digunakan termakan terutama pada bagian pinggir pembatas bidang teks, sehingga berpotensi hancur ketika dibuka per halaman. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan ukuran 38 x 25 cm, tebal 7 cm, dengan ukuran bidang teks 26 cm x 15 cm. Mushaf ini terdiri dari 15 baris. Berbeda dengan mushaf sebelumnya, mushaf kuno ini, di bagian akhir mencantumkan doa khatmul Qur’an, dan doa-doa lainnya, sehingga terlihat cukup lengkap.

Mushaf 4

Di antara mushaf koleksi Musem Linggam lainnya, mushaf ini yang cukup istimewa, karena mushaf ini memiliki catatan kolopon pada bagian akhir mushaf yang memuat keterangan tentang identitas penulis dan tahun penyalinan. Kolofon pada mushaf menerangkan bahwa penulis mushaf ini adalah H. Abdul Karim bin ‘Abbas bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah. Tarikh penulisannya hari Jumat, 13 Jumadil Awal 1249 H, (27 September 1833). Mushaf ini dipamerkan bersama dengan tiga mushaf lainnya karena memiliki keterangan yang cukup lengkap. Ukuran mushaf 33 x 20 cm, tebal 7 cm, dengan bidang teks 22 x 12 cm. Tidak jauh berbeda dengan mushaf sebelumnya, tinta yang digunakan adalah hitam dan merah dengan penggunaan sebagaimana mushaf lainnya. Tulisan Al-Quran kuno ini menggunakan rasm imlai sementara qiraat yang dipakai adalah qiraat Hafs ‘an ‘Asim, dan jumlah barisnya adalah 15. Mushaf ini sudah menggunakan sejumlah tanda baca, tajwid, dan waqaf. Sama dengan mushaf sebelumnya, lafaz Allah sudah menggunakan fathah berdiri sebagaimana digunakan pada mushaf standar Indonesia.

Mushaf 5

Tidak berbeda dengan yang lain, mushaf ini terdiri dari 15 baris setiap halaman, menggunakan tinta warna merah, hitam, dan kuning. Hitam digunakan utuk teks utama, merah dipakai untuk pananda awal surah dan pembatas bidang teks yang dikombinasi warna hitam, sementara kuning digunakan untuk penandaan ayat. Ukuran mushaf 33 x 21 cm, tebal 6 cm dengan ukuran bidang teks 23 x 13 cm. Rasm yang digunakan adalah rasm imlai dengan pengecualian beberapa lafaz seperti shalat, zakat dan lainnya. Tulisan mushaf kuno ini juga sudah menggunakan penanda mad wajib dan jaiz. Penandaan lain seperti rubu’ sumun dan ruku’ tidak ada. Yang ada hanya nisf dan penandaan juz.[]