Bogor (30/10/2017) - Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Dr. Muchlis M. Hanafi, MA, menghimbau Bidang Pentashihan untuk meningkatkan layanannya dengan memperbaiki data pentashihan. Data yang dimaksud Muchlis adalah data tentang jumlah mushaf yang sudah ditashih, tanda tashih yang sudah dikeluarkan, jumlah Al-Qur’an yang sudah dicetak dan beredar di Indonesia, jumlah penerbit Al-Qur’an dan jumlah percetakan yang layak mencetak Al-Qur’an.

Hal itu disampaikan oleh Muchlis saat membuka Sidang Reguler Pentashihan Mushaf Al-Qur’an ke- 10 di Bogor, Senin (30/10) sore hari.

Kepala LPMQ tersebut menjelaskan bahwa dalam sebuah lembaga ketersediaan data adalah hal yang penting. Dia bercerita, sering kali kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang  muncul dari anggota dewan saat rapat dengar pendapat atau pun pertanyaan dari Menteri Agama soal data mushaf ini. Untuk itu Muchlis meminta agar para pentashih juga memikirkan soal ketersediaan data tersebut sebagai salah satu bentuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Selain itu, Muchlis juga mengingatkan agar para pentashih tidak terjebak dalam rutinitas mentashih saja. Meskipun, dengan buru-buru dia menyatakan, bahwa apa yang sudah dikerjakan pentashih selama ini sesungguhnya sudah baik.

“Jangan terjebak pada rutinitas mentashih sehari-hari saja, Mari berfikir bagaimana mengemas kegiatan pentashihan ini dengan baik, dengan proses manajemen modern sehingga bisa dimanfatkan oleh orang lain. Soal data harus diperbaiki, begitu juga soal kearsipan mushaf-mushaf yang beredar,” ujar Muchlis.

Melanjutkan sambutanya, Muchlis menyampaikan bahwa kegiatan mentashih Al-Qur’an adalah satu hal yang menarik. Tidak hanya di kalangan dalam negeri, bahkan dari kalangan luar negeri. Dia berharap kegiatan pentashihan bisa diterjemahkan dalam bentuk tulisan atau diktat, sehingga semua orang bisa mengetahui apa yang dikerjakan. Apalagi ada dasar-dasar ilmiah soal substansi dalam Mushaf Standar, seperti ilmu rasm, ilmu dhabt dan waqaf ibtida’, akan lebih menarik bagi dunia kampus dan lebih aplikatif.

“Selama ini, perguruan tinggi telah absen dalam kajian ilmu rasm, ilmu dhabt dan waqaf ibtida’, sedangkan kita unggul dalam bidang-bidang ini,” ungkapnya.bp