Pringsewu (22/10/2017) - Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) menyelenggarakan kegiatan diseminasi Al-Qur’an di Kabupaten Pringsewu, Bandar Lampung. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala LPMQ, Dr. Muchlis M. Hanafi, MA, Wabup Pringsewu, pimpinan pondok pesantren, usur TNI dan Polri, serta tokoh-tokoh masyarakat penggiat Al-Qur’an di Pringsewu.

Selaku narasumber dalam kegiatan ini, kepala LPMQ menekankan pentingnya menggawal pemahaman masyarakat terhadap Al-Qur’an. Selama ini, seruan kepada masyarakat cenderung berhenti pada belajar membaca saja. Seruan itu hanyalah salah satu saja dari tiga pola perlakuan kepada Al-Qur’an. Hendaknya dilengkapi dengan melanjutkan pada pola perlakuan berikutnya. Sebab, selain menjadi kitab bacaan yang berpahala, fungsi Al-Qur’an adalah sebagai kitab petunjuk yang harus difahami maknanya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Paling tidak ada tiga pola dalam memperlakukan Al-Qur’an (al-muasyarah ma’al qur’an): pertama, tilawatan wa hifdzan (membaca dan menghafal), kedua,  fahman wa tafsiran (memahami dan menafsirkan), ketiga, ittibaan wa amalan wa dakwatan (mengamalkan dan mendakwahkan),” jelas Muchlis.

Ketiga pola hubungan tersebut penting dan terkait satu dengan lainnya. Tidak boleh dipisah-pisahkan. Menurut Muchlis, minat masyarakat kita saat ini kepada Al-Qur’an sedang tinggi-tinginya. Kita bisa bisa melihat dengan semaraknya kegiatan tahfiz Al-Qur’an. TPQ dan Pesantren-pesantren Tahfiz juga bermunculan di mana-mana. “Kondisi ini menggembirakan, namun harus dikawal dengan baik,” kata Muchlis. Sebab itulah, LPMQ concern menyusun dan menerbitkan berbagai produk kajian Al-Qur’an untuk mendukung pemahaman masyarakat. Mulai dari terjemah Al-Qur’an, Tafsir Tahlili, Tafsir tematik, Tafsir Ilmi, Buku Fadhail Qur’an dan sebagainya.

“Sejak tahun 1967 Kementerian Agama telah menerbitkan terjemah Al-Qur’an. Terjemah ini telah mengalami tiga kali kajian penyempurnaan. Selain itu, kita juga telah menerbitkan Tafsir Tahlili 7 jilid, Tafsir Tematik 26 judul, Tafsir Ilmi 119 judul, dan Tafsir Wajiz/ Ringkas 2 jilid buku.  Beberapa hasil kajian Tafsir Ilmi telah dikembangkan menjadi film pendek, agar lebih mudah dinikmati masyarakat,” paparnya.

Pernyataan ini mendapat respon positif dari peserta kegiatan. Drs. Heri Iswahyudi, MAg. selaku staf ahli Bupati yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut berkomentar, “Acara ini sangat bermanfaat bagi kita. Memicu semangat kita untuk mengkaji Al-Quran. Kondisi kita masih jauh. Dalam hal pendidikan Al-Qur’an ada yang perlu diperbaiki. Metode dan pendekatannya,” ungkapnya.

“Masyarakat kita baru sampai pada level membaca. Puas dengan pahala yang banyak. Ini mungkin efek penanaman fadhailul amal. Jarang ada yang menyampaikan bahwa membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya pahalanya lebih tinggi.  Membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an pahala lebih tinggi. Ke depan hal ini perlu kita perbaiki,” jelasnya bersemangat.bp