Jakarta (04/08/2017) - Keberadaan LPMQ semakin diminati berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang memiliki Program Studi (Prodi) IAT. LPMQ dipandang sebagai lembaga pemerintah di bawah Kementerian Agama (Kemenag) yang paling tepat untuk pengayaan keterampilan mahasiswa prodi IAT. Setelah sehari sebelumnya, hari ini, Jumat (04/08) kunjungan serupa juga dilakukan oleh prodi IAT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Rombongan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah berjumlah 20 orang dan didampingi oleh 2 orang dosen pembimbing. Mereka tiba di kantor LPMQ sekitar pukul 09:00 WIB. Kepala LPMQ, Dr. Muchlis M Hanafi, MA menyambut langsung kedatangan mereka. Sesi pertemuan formal dilangsungkan di aula kantor LPMQ lantai 4. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Kasubag Tata Usaha, Kasi Pengembangan dan Pengkajian Al-Qur’an dan seorang wakil peneliti dari LPMQ.

Dalam sambutannya, Dr. Lilik Umi Kalsum, MA selaku dosen pendamping mengutarakan keinginanya untuk mencetak kader-kader mufasir dari mahasiswa prodi IAT. Dia berkeyakinan, dari sekian banyak lulusan Prodi IAT pasti ada yang cemerlang dan akan menjadi mufasir di masa mendatang. “Saya berkeyakinan, dari ribuan lulusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, pasti ada yang akan menjadi berlian, yang siap menerangi umat,” ungkap Kepala Jurusan (Kajur) IAT itu.  

Menurutnya, untuk merealisasikan harapan itu mahasiswa IAT tidak cukup hanya dibekali teori-teori di dalam kelas. Mereka perlu diajak terjun langsung ke lembaga-lembaga yang selama ini intens mengkaji dan menghasilkan produk-produk tafsir Al-Qur’an. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini adalah mereka yang telah dipilih melalui seleksi keterampilan membaca kitab kuning, Bahasa Arab dan pemahaman Ulum Al-Qur’an.

“Mahasiswa yang hadir di sini sudah kami pilih. Mereka yang pinter-pinter. Yang sudah saya tes kemampuan baca kitab, Bahasa Arab dan pemahaman Ulumul Qur’anya,” kata doktor lulusan Uin Syarif Hidayatullah itu. Selanjutnya, Lilik menjelaskan, sebelum ke LPMQ para mahsiswa pilihan itu telah dibina di Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ), Tangerang Selatan. Di sana mereka mendalami kajian tafsir. “untuk melengkapi keterampilan mereka, saya mengajak mereka ke sini. Menurut saya, LPMQ adalah lembaga yang paling sesuai untuk mempertajam keterampilan mereka,” lanjut dosen yang hafal Al-Qur’an itu penuh semangat.

Lilik berharap, nantinya, beberapa orang mahasiswa yang terbaik bisa diikut sertakan dalam kegiatan kajian Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an Kemenag, yang saat ini sedang dikerjakan LPMQ. “Saya berharap, beberapa mahasiswa yang terbaik diizinkan oleh bapak Kepala LPMQ untuk turut menyaksikan secara langsung bagaimana proses Sidang Kajian Peyempurnaan itu. Agar mereka tahu bagaimana jalannya pembahasan, perdebatan dan dialektika yang terjadi antara para pakar Al-Qur’an yang sedang bertugas,” tuturnya.  

Selaku Kepala LPMQ, Muchlis meyambut baik keinginan itu dan akan memenuhi harapan Lilik. “Yang terbaik akan kita ikutkan, kita libatkan untuk melihat bagaimana kegiatan kajian di LPMQ berjalan. Melihat prosesnya,” jelas pakar tafisr Al-Quran itu. Menurutnya, proses pembelajaran dan kaderisasi seperti ini penting. Belajar tidak harus terus-menerus di dalam kelas. Mahasiswa harus melihat langsung. Melihat proses di balik meja. Bagaimana para pakar itu bekerja. Muchlis memberikan permisalan, untuk tumbuh dan menjadi batang pohon yang siap berbuah, bisa menggunakan sistem okulasi (tempel). Untuk menjadi mufasir, harus dekat dengan ahli tafsir. Selain itu, juga membutuhkan waktu. 

“Seperti tunas pohon, diokulasi dulu, agar bisa tumbuh. Sistem ini bisa menjadi cara pembelajaran yang efektif. Proses kaderisasi tidak harus mengikuti tutorial saja. Dalam agama disebut mulazamah atau suhbatu uztadzin.” Jelas doktor lulusan al-Azhar Kairo tersebut.bp