KH Muhammad Munawwir lahir di Kauman, Yogyakarta, dari pasangan KH Abdullah Rosyad dan Khodijah. KH M. Munawwir beristrikan empat orang, yaitu Ny. R.A. Mursyidah dari Kraton, Ny. Hj. Suistiyah dari Wates, Ny. Salimah dari Wonokromo, dan Ny. Rumiyah dari Jombang. Ketika istri pertamanya meninggal dunia, KH M. Munawwir menikahi Ny. Khodijah dari Kanggotan, Gondowulung.

Al-Qur’an adalah pusaka yang diwariskan Rasulullah saw. kepada seluruh umatnya untuk dijadikan pedoman agar tidak tersesat dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Al-Qur’an adalah harta yang paling berharga bagi seorang Muslim, karena ia adalah hidangan langsung dari Allah swt. yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan dahaga jiwa.

Hatim al-Asamm (Abu Abdirrahman Hatim bin ‘Ulwan al-Asamm, w. 237 H/851 M), salah seorang sufi besar abad ke-3 H/9 M, pernah ditanya oleh gurunya, Asy-Syaqiq al-Balkhi (Abu ‘Ali Syaqiq bin Ibrahim al-Balkhi, w. 194 H/810 M). “Hai Hatim, engkau telah bersamaku 30 tahun lamanya. Apa yang engkau dapatkan selama kurun waktu tersebut?” Hatim al-Asamm menjawab, “Selama kurun waktu tersebut aku telah memperoleh delapan macam pengetahuan hikmah. Delapan hikmah tersebut bagiku sudah mencukupi, dan aku berharap bahwa kebahagian dan kesuksesanku hanya kepada delapan hikmah tersebut.”