Bulan April ini pengunjung Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal dari kalangan siswa sekolah masih banyak berdatangan dalam rangka study tour atau walking class. Tamu rombongan itu masih didominasi oleh siswa setingkat TK/TPA hingga SMA dan mahasiswa dari berbagai universitas, bahkan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dari beberapa daerah. Secara kuantitatif, jumlah pengunjung kategori anak-anak dan dewasa sedikit lebih rendah dibanding bulan Maret. Penurunan ini antara lain disebabkan oleh adanya pelaksanaan Ujian Nasional yang cukup menyita perhatian dari para pengajar yang biasanya mendampingi study tour peserta didiknya.

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menulis dalam otobiografinya, Hikayat Abdullah (cetakan litografi, Singapura, tahun 1849),

Sebermula adalah berbagai2 perkakas hukuman dan syeksa dalam tempat mengaji itu sedia, berbagai2 rupanya, dihukumkan atas jenis kesalahannya. Pertama2 rotan dan apit Cina. Adapun apit Cina itu diperbuat daripada rotan saga empat keping; kira2 panjangnya sejengkal2. Maka cucuk sebelah hujung dimatikan dan lagi sebelah diberi bertali panjang; demikianlah rupa gambarnya. Maka yaitu hukuman mengapitkan jari, yaitu hukuman seperti budak2 mencuri atau memukul kawan2nya.

Untuk mengetahui tradisi mushaf dan aktivitas mengaji pada awal abad ke-19, khususnya di negeri Melayu (dalam hal ini Semenanjung Malaya), ada baiknya kita membaca catatan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Salah satunya ia catat dalam Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura sampai ke Kelantan. Edisi cetak batu kisah ini diterbitkan di Bandar Negeri Singapura, tahun 1254 H/1838 M. Dalam perjalanannya ke negeri Kelantan, ketika ia sampai di Pahang – seraya ia menyebutkan adanya rumah-rumah untuk belajar mengaji – bahwa kegiatan mengaji adalah “adat dalam segala negeri2 Melayu dalam dunia.” Kegiatan mengaji dilakukan sejak kecil. “Semuanya daripada kecilnya ia memulai mengaji Al-Qur’an,” meskipun “dengan tiada ia mengerti …”.

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (biasanya kita sebut “Lajnah” atau “LPMA”) ditetapkan menjadi satuan kerja di lingkungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada tahun 2007. Salah satu upaya untuk memperkenalkan Lajnah – dan semua produk unggulan yang dihasilkannya – adalah melalui jaringan internet. Website Lajnah http://lajnah.kemenag.go.id online sejak bulan Maret 2011, dan menjadi salah satu wadah publikasi dan sosialisasi produk-produk  Lajnah yang efektif.

Hampir sama dengan bulan sebelumnya, Maret ini pengunjung Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal dari kalangan siswa sekolah masih banyak berdatangan dalam rangka study tour. Tidak hanya didominasi siswa setingkat SD hingga SMU dan mahasiswa dari berbagai universitas, namun juga siswa setara TK/TPA bahkan PAUD dari beberapa daerah. Secara kuantitatif, jumlah pengunjung kategori anak-anak sedikit lebih banyak dibanding bulan Februari. Sedangkan pada pengunjung dewasa terjadi penurunan.