Penyebaran Islam melalui jalur maritim telah membawa pengaruh besar tidak hanya bagi perkembangan Islam di daerah pesisir pulau-pulau di Nusantara, namun juga perkembangan di sektor lainnya, semisal perniagaan kain batik.

Al-Qur’an berulang kali menyebut dan mengenalkan laut, samudra, pantai, muara, dan berbagai hal terkait dengan laut. Sangat menakjubkan bahwa Al-Qur’an berbicara banyak tentang laut, padahal kitab suci ini diturunkan di wilayah padang pasir, bahkan tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan adanya ayat yang diturunkan di tengah samudra. Walau demikian, Al-Qur’an begitu jelas menerangkan keterkaitan antara kehidupan manusia dengan eksistensi laut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya laut dalam kehidupan manusia. Bukan sekadar menunjukkan kekuasaan Allah, namun laut memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia, mulai dari fungsi prasarana transportasi, wisata bahari, penyedia sumber protein, sumber energi pembangkit listrik dan energi, penyedia komoditas yang bisa diperoleh dari laut, bahkan menjadi media inspirasi dalam banyak hal.

Penelitian Mushaf Al-Qur’an kuno yang dilakukan pada tahun 2013 difokuskan di Museum Negeri Aceh. Museum ini menyimpan 87 mushaf, 14 di antaranya berhasil didigitalisasi dan diteliti. Deskripsi masing-masing naskah adalah sebagai berikut:

  1. Mushaf 07.1548. Mushaf ini berukuran 23 x 33 cm, sementara bidang teksnya berukuran, 13 x 23 cm. Jumlah halaman juz terdiri antara 17 hingga 18 halaman. Setiap halamannya terdiri dari 17 baris. Keadaan mushaf ini masih lengkap dari Surah al-Fatihah hingga surah an-Nas walaupun sebagian khususnya bagian depan dan belakang ada yang di makan serangga. Sampul terbuat dari bahan kulit dengan kondisi agak berjamur. Tinta yang digunakan untuk bagian dalam ada tiga, merah, hitam, dan kuning. Tinta hitam untuk tulisan teks Al-Qur’an, tinta merah digunakan untuk menandai awal juz baik dalam teks ataupun di luar teks. Sedangkan warna kuning untuk membuat bulatan penanda ayat, warna kuning juga digunakan untuk pelengkap dalam iluminasi seperti terdapat pada surah al-Fatihah dan awal surah al-Baqarah serta warna pada bingkai ayat pada tiap halaman.

Sumatera Barat dapat dikatakan kaya dengan naskah kuno, termasuk Al-Qur’an, yaitu sebanyak 45 naskah yang disimpan oleh beberapa lembaga dan perorangan. Hal ini berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan M. Yusuf dan timnya. Adapun Museum Adityawarman, Padang, mengoleksi 13 manuskrip Al-Qur’an dengan kondisi yang cukup baik, meskipun dari sisi kelengkapan, hanya sedikit saja yang lengkap 30 juz. Koleksi manuskrip Al-Qur’an terawat dengan baik, dan masih ada beberapa koleksi yang belum terinventarisir oleh petugas koleksi museum.