Bulan Mei ini pengunjung Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal dari kalangan siswa sekolah makin banyak berdatangan dalam rangka study tour atau walking class maupun sekadar mengisi liburan. Terjadi peningkatan jumlah pengunjung rombongan kategori anak-anak yang terdiri atas siswa setingkat PAUD, TK/TPA dan SD. Selain itu, pengunjung kategori dewasa yang terdiri atas siswa setingkat SLTP, SMU dan mahasiswa dari berbagai universitas dan daerah juga tetap banyak berdatangan. Secara keseluruhan, jumlah pengunjung mengalami peningkatan dibanding bulan April lalu. Peningkatanan ini antara lain disebabkan oleh selesainya pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini.

Mushaf Al-Qur’an dan naskah-naskah lainnya, baik bersifat keagamaan maupun sastra, di Maluku tersebar di banyak tempat. Dari penelusuran naskah yang telah dilakukan, terhimpun 15 mushaf, terdiri atas 13 manuskrip (tulis tangan) dan dua mushaf cetakan awal. Tulisan singkat ini mendeskripsikan ke-15 mushaf, diharapkan dapat memberi gambaran awal mengenai keberadaan mushaf Al-Qur’an di Maluku pada masa lampau. Karena iklim yang lembab, dan perawatan yang kurang memadai, pada umumnya kondisi mushaf-mushaf kuno tersebut saat ini sangat memprihatinkan.

‘Sundawi’ yang digunakan dalam Al-Qur’an Mushaf Sundawi adalah istilah yang dikaitkan dengan konsep desain dan tatanan iluminasi yang diterapkan pada setiap halaman mushaf ini. Pada prinsipnya ada dua jenis sumber inspirasi atau acuan desain yang digunakan. Pertama, yang referensinya berasal dari motif islami Jawa Barat, misalnya memolo mesjid, motif batik, ukiran mimbar, mihrab, dan artefak lainnya, dengan catatan bahwa motif-motif tersebut tidak bersifat anthropomorphic (dari bentuk manusia) ataupun zoomorphic (dari bentuk binatang). Jenis motif kedua, yaitu desain yang bersumber pada sejumlah flora tertentu yang khas Jawa Barat, seperti gandaria dan patrakomala.

[Catatan: Artikel ini merupakan pembanding atas tulisan “Mushaf Al-Qur’an Kuno-kunoan” yang ditulis oleh Ali Akbar di http://lajnah.kemenag.go.id/artikel/49-feature/124-mushaf-al-quran-kuno-kunoan.html beberapa waktu lalu].

Sekitar April 2009 masyarakat pernah dihebohkan dengan munculnya sebuah mushaf Al-Qur’an (dan sebilah pedang) secara “tiban” (ujug-ujug ada) di sebuah masjid kampung di Banten. Kabar tersebut waktu itu cukup menghebohkan, dan sempat membikin ‘repot’ pihak-pihak yang berwenang. Kabar lainnya, seseorang datang ke sebuah museum membawa sebuah mushaf, dan secara ‘meledak-ledak’ mengatakan bahwa mushaf yang dibawanya itu muncul secara tiba-tiba bersamaan dengan halilintar yang menyambar! Wah! Satu lagi, seseorang dari Cirebon menawarkan sebuah mushaf melalui email, dan mengatakan bahwa mushaf yang ditawarkannya itu diperoleh dari tirakat di makam Sunan Gunung Jati bersama beberapa ulama Cirebon!