Corak iluminasi yang berbeda tampak pada mushaf-mushaf yang berasal Kesultanan Bone, Sulawesi Selatan (Gambar 6), serta corak diasporanya seperti tampak pada mushaf dari Kesultanan Bima (Gambar 7), dan Kesultanan Ternate (Gambar 8, 9).

Mushaf ini memiliki nama ‘Kanjeng Kiai Al-Qur’an’. Nama “kanjeng kiai” lazim diberikan untuk tiap benda pusaka milik Kraton. Mushaf ini ditulis oleh seorang pegawai Kraton Surakarta bernama Ki Atma Parwita dalam waktu dua setengah bulan pada tahun 1724 (Jawa) atau bertepatan dengan 1212 H dan 1797 M. Pada kolofon mushaf ini tertulis:

Juli merupakan bulan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah. Bagi museum dan anjungan di TMII, momen ini biasanya menjadikannya kurang ramai dikunjungi masyarakat, baik dari kalangan siswa sekolah maupun masyarakat umum. Di Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal (BQMI) sendiri terjadi penurunan jumlah pengunjung rombongan kategori dewasa yang terdiri atas siswa setingkat SLTP, SMU, mahasiswa hingga lansia. Meski demikian, pengunjung kategori anak yang terdiri dari beberapa rombongan siswa setingkat TK/TPA dan SD dari berbagai daerah masih tetap berdatangan. Secara keseluruhan, terjadi penurunan jumlah pengunjung hingga 60% dari rata-rata pengunjung di bulan-bulan sebelumnya. Hal ini, tak lain disebabkan oleh berakhirnya liburan sekolah, juga karena dimulainya bulan suci Ramadhan yang menyebabkan masyarakat agak enggan berjalan-jalan ke tempat-tempat hiburan.

Tulisan ini ingin memberikan gambaran singkat mengenai sejumlah mushaf Al-Qur’an yang disalin di beberapa istana kesultanan di Nusantara. Mushaf-mushaf tersebut sebagian kini masih tersimpan di istana atau museum istana tempat asal mushaf tersebut disalin, dan sebagian lain kini telah berpindah tangan menjadi koleksi museum, perpustakaan, atau bahkan diperdagangkan dan menjadi koleksi pribadi.

Belum banyak kajian yang terfokus pada sejarah perkembangan penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an di Indonesia. Dari yang sedikit itu, Kajian Al-Qur'an di Indonesia tulisan Howard M. Federspiel sepertinya yang sering dijadikan rujukan oleh pemerhati khazanah ke-al-Qur'an-nan di Indonesia. Terjemahan Al-Qur'an Kementerian Agama RI yang biasa disebut Al-Qur'an dan Terjemahnya telah mengalami beberapa kali perbaikan dan penyempurnaan. Sejak pertama kali diedarkan pada 17 Agustus 1965 hingga sekarang, terjemahan Al-Qur'an Kementerian Agama setidaknya sudah mengalami dua kali proses perbaikan dan penyempurnaan, pertama, penyempurnaan redaksional yang dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan bahasa pada saat itu, yaitu pada tahun 1989; dan kedua, penyempurnaan secara menyeluruh yang mencakup aspek bahasa, konsistensi pilihan kata, substansi, dan aspek transliterasi, dalam rentang waktu yang cukup lama antara tahun 1998 hingga 2002. Proses perbaikan dan penyempurnaan itu dilakukan oleh para ulama, ahli dan akademisi yang memiliki kompetensi di bidangnya sebagai wujud keterbukaan Kementerian Agama terhadap saran dan kritik konstruktif bagi perbaikan dan penyempurnaan Al-Qur'an dan Terjemahnya. Penyusunan Al-Qur'an dan Terjemahnya didasarkan pada sebuah kesadaran dari para penyusunnya bahwa penerjemahan Al-Qur'an secara harfiah tidak mungkin bisa dilakukan, sebab bahasa-bahasa di dunia ini terlalu miskin untuk bisa menerjemahkan bahasa Al-Qur'an. Karena itu, yang dimaksud sebenarnya adalah terjemahan makna Al-Qur'an, bukan terjemahan dengan pengertian pengalihbahasaan yang dapat menggantikan posisi teks Al-Qur'an itu sendiri atau menampung semua pesan yang terkandung dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an dan Terjemahnya disusun dengan menggabungkan metode terjemahanharfiah dan tafsiriah. Lafal yang bisa diterjemahkan secara harfiah, diterjemahkan secara harfiah. Sedang yang tidak, diterjemahkan secara tafsiriah, baik dalam bentuk pemberian catatan kaki maupun tambahan penjelasan di dalam kurung. Dalam kata pengantar Ketua Lembaga Penjelenggara Penterdjemah Kitab Sutji Al-Quraan, Prof. R.H.A. Soenarjo, SH., pada Al-Quraan dan Terjemahnya terbitan Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quraan (1969) disebutkan: “Terdjemahan dilakukan seleterlijk (seharfijah) mungkin. Apabila dengan tjara demikian terdjemahan tidak dimengerti, maka baru ditjari djalan lain untuk dapat difahami dengan menambah kata-kata dalam kurung atau diberi not. Apabila mengenai sesuatu kata ada dua pendapat, maka kedua pendapat itu dikemukakan dalam not.”Hal ini sejalan dengan pandangan beberapa ulama seperti Imam asy-Syathibi, Ibn Qutaibah dan Syeikh Musthafa al-Maraghi yang menyatakan bahwa alfâzh al-Qur’ân ada yang dapat diterjemahkan secara harfiah dan ada yang tidak, sesuai dengan denotasi (dalâlah)-nya; ashliyyah atau tâbi`ah/tsânawiyyah. Metode yang sama juga pernah dilakukan oleh A. Hassan bin Ahmad dalam Al-Furqan Tafsir Al-Qur'an, Prof. TM. Hasbi Ash Shiddieqy dalam Tafsir Al-Bayaan, dan M. Quraish Shihab dalam Al-Qur'an dan Maknanya.