Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah kepada umat manusia. Setelah Al-Qur’an selesai diturunkan, maka tidak akan ada lagi kitab suci yang diturunkan sesudahnya. Sebagai kitab suci terakhir, kaum Muslimin harus terus menjaga kesucian kitab ini sebagaimana layaknya menghormati sesuatu yang sangat berharga. Karena kitab suci ini diturunkan untuk menjadi kitab hidayah atau petunjuk bagi umat manusia, agar manusia bisa hidup selamat di dunia sampai akhirat. Penyepelean terhadap tugas ini akan membawa implikasi yang sangat serius baik bagi kehidupan kaum muslimin sendiri maupun bagi umat manusia secara keseluruhan. Jika kitab suci ini tercemar atau terkena perubahan oleh tangan-tangan manusia, maka di dunia ini sudah tidak ada lagi alat pengukur kebenaran satu ideologi dan nilai-nilai kehidupan.

Al-Qur'an telah menyatakan dirinya sebagai hudan lin-nās (petunjuk bagi seluruh manusia), yang dapat menuntun umat manusia menuju ke jalan yang benar. Selain itu ia juga berfungsi sebagai pemberi penjelasan (tibyan) terhadap segala sesuatu dan pembeda (furqan) antara kebenaran dan kebatilan.

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tetapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tidak mampu menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tetapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tidak mampu menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an.

Banyak orang bertanya-tanya tentang Qur'an kecil, mini, yang umumnya mereka warisi dari kaluarganya. Beberapa kali orang datang ke Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal untuk menanyakan hal ini. Qur'an kecil itu biasanya disebut "Qur'an Istanbul", "Istambul", atau "Stambul". Dua hal yang umumnya menjadi pertanyaan, yaitu apakah itu tulis tangan atau cetakan, dan kapan Qur'an ini dibuat. Untuk pertanyaan pertama, Qur'an kecil seperti itu bisa dipastikan adalah cetakan, bukan tulis tangan. Dan karena dahulu umumnya dicetak di Istanbul, maka nama kota itu melekat menjadi sebutan, "Qur'an Istanbul". Di dunia Islam, Qur'an baru mulai banyak dicetak sekitar awal atau pertengahan abad ke-19, dan pada paruh kedua abad ke-19 tumbuh pesat seiring perkembangan teknologi percetakan. Berdasarkan kenyataan itu, Qur'an kecil diperkirakan umumnya dicetak pada awal atau pertengahan abad ke-20, atau bahkan lebih muda dari itu.