Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tetapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tidak mampu menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tetapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tidak mampu menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an.

Sebuah manuskrip Al-Qur’an yang indah terdapat dalam koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Koleksi yang dipajang di pintu masuk ruang Perpustakaan itu, berdasarkan ciri fisiknya, tampak ada kemiripan dengan “Kanjeng Kiai Qur’an” yang merupakan Mushaf Pusaka Keraton Yogyakarta (lihat: http://lajnah.kemenag.go.id/artikel/141.html?task=view). Mushaf Al-Qur’an ini berukuran 41,5 x 25 cm, tebal 7,5 cm, dengan cap kertas Honig & Zoonen.

Banyak orang bertanya-tanya tentang Qur'an kecil, mini, yang umumnya mereka warisi dari kaluarganya. Beberapa kali orang datang ke Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal untuk menanyakan hal ini. Qur'an kecil itu biasanya disebut "Qur'an Istanbul", "Istambul", atau "Stambul". Dua hal yang umumnya menjadi pertanyaan, yaitu apakah itu tulis tangan atau cetakan, dan kapan Qur'an ini dibuat. Untuk pertanyaan pertama, Qur'an kecil seperti itu bisa dipastikan adalah cetakan, bukan tulis tangan. Dan karena dahulu umumnya dicetak di Istanbul, maka nama kota itu melekat menjadi sebutan, "Qur'an Istanbul". Di dunia Islam, Qur'an baru mulai banyak dicetak sekitar awal atau pertengahan abad ke-19, dan pada paruh kedua abad ke-19 tumbuh pesat seiring perkembangan teknologi percetakan. Berdasarkan kenyataan itu, Qur'an kecil diperkirakan umumnya dicetak pada awal atau pertengahan abad ke-20, atau bahkan lebih muda dari itu.

Sejak berabad lampau, ketika mushaf Al-Qur’an masih disalin satu per satu secara manual, para penyalin mushaf Nusantara telah berkarya dengan baik. Banyak mushaf telah ditemukan, tersebar dari Aceh hingga Ternate, atau bahkan Raja Ampat di Papua. Namun para penyalin mushaf-mushaf tersebut kebanyakan tidak mencantumkan namanya di dalam mushaf hasil karyanya – barangkali agar tidak mengurangi rasa takzimnya kepada Al-Qur’an, atau alasan lainnya.Meskipun tidak terlalu banyak nama penyalin yang tercantum dalam manuskrip mushaf hingga berakhirnya tradisi manuskrip pada akhir abad ke-19, namun nama-nama perlu dihimpun, nanti, meskipun memang memerlukan waktu dan ketekunan.