Beberapa Terbitan Mushaf

Dalam pengamatan penulis, penerbitan mushaf Al-Qur’an mengalami kemajuan yang cukup signifikan pada dekade ini. Apalagi dengan teknologi komputer saat ini. Ada beberapa penerbitan mushaf yang beredar yang akan penulis kemukakan di sini, yaitu:

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan

Jika yang akan dilakukan oleh penerbit adalah menerbitkan mushaf yang baru sama sekali, maka beberapa pokok persoalan yang harus diperhatikan, yaitu:

Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah kepada umat manusia. Setelah Al-Qur’an selesai diturunkan, maka tidak akan ada lagi kitab suci yang diturunkan sesudahnya. Sebagai kitab suci terakhir, kaum Muslimin harus terus menjaga kesucian kitab ini sebagaimana layaknya menghormati sesuatu yang sangat berharga. Karena kitab suci ini diturunkan untuk menjadi kitab hidayah atau petunjuk bagi umat manusia, agar manusia bisa hidup selamat di dunia sampai akhirat. Penyepelean terhadap tugas ini akan membawa implikasi yang sangat serius baik bagi kehidupan kaum muslimin sendiri maupun bagi umat manusia secara keseluruhan. Jika kitab suci ini tercemar atau terkena perubahan oleh tangan-tangan manusia, maka di dunia ini sudah tidak ada lagi alat pengukur kebenaran satu ideologi dan nilai-nilai kehidupan.

Penerbitan Al-Qur’an

Pada masa Nabi, Al-Qur’an telah ditulis keseluruhan oleh para sahabat penulis wahyu. Namun masih berserakan di benda-benda yang bisa ditulis seperti kulit binatang, pelepah kurma, batu-batu putih yang tipis, tulang-belulang, dan lain sebagainya. Lalu pada masa Abu Bakar Al-Qur’an ditulis dalam satu mushaf yang sudah berurutan ayat dan surahnya. Namun belum ada titik, harakat (baris), nama surah, tanda waqaf, juz, hizb, rubu’, tsumun, tanda ayat sajadah, penomoran ayat, tanda-tanda bacaan tertentu seperti isymam, imalah dan lain sebagainya. Khat yang digunakan adalah khat Kufi yang kaku, sebagai kelanjutan dari khat Nabthi sebagai pelanjut dari khatnya bangsa Smith, yaitu induk dari bangsa-bangsa Arab, Israel dan lain sebagainya yang telah berkembang pada masa pra-Islam.

Al-Qur'an telah menyatakan dirinya sebagai hudan lin-nās (petunjuk bagi seluruh manusia), yang dapat menuntun umat manusia menuju ke jalan yang benar. Selain itu ia juga berfungsi sebagai pemberi penjelasan (tibyan) terhadap segala sesuatu dan pembeda (furqan) antara kebenaran dan kebatilan.