Pada tahun 1998/1999 Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an yang berada pada Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang Departemen (sekarang Kementerian) Agama menyusun buku Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dengan Rasm Usmani. Ketika membahas istilah dan tarjih riwayat, disebutkan dalam buku tersebut bahwa sebagaimana dalam disiplin ilmu hadis ada istilah asy-Syaikhan (dua guru besar) yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim, dalam fiqh Syafi’iyah yang dimaksud adalah Imam Nawawi dan Imam Rafi’i, maka dalam ilmu rasm yang dimaksud adalah Abu Amr ad-Dani (w. 444 H) dan Abu Daud (w. 496 H).

Pernahkah Anda mendengar "Mushaf Indonesia"? Inilah mushaf (atau 'mashaf', begitu dalam Qur'an ini disebut) yang ditulis atas prakarsa Dr Haji Ibnu Sutowo, sekaligus sebagai 'pemilik naskah asli' (demikian ditulis pada catatan yang sangat informatif di awal mushaf). Ibnu Sutowo pada tahun 1970-an dikenal sebagai 'raja minyak', dan pendiri Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) di Jakarta Selatan.

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan

Jika yang akan dilakukan oleh penerbit adalah menerbitkan mushaf yang baru sama sekali, maka beberapa pokok persoalan yang harus diperhatikan, yaitu:

Beberapa Terbitan Mushaf

Dalam pengamatan penulis, penerbitan mushaf Al-Qur’an mengalami kemajuan yang cukup signifikan pada dekade ini. Apalagi dengan teknologi komputer saat ini. Ada beberapa penerbitan mushaf yang beredar yang akan penulis kemukakan di sini, yaitu:

Penerbitan Al-Qur’an

Pada masa Nabi, Al-Qur’an telah ditulis keseluruhan oleh para sahabat penulis wahyu. Namun masih berserakan di benda-benda yang bisa ditulis seperti kulit binatang, pelepah kurma, batu-batu putih yang tipis, tulang-belulang, dan lain sebagainya. Lalu pada masa Abu Bakar Al-Qur’an ditulis dalam satu mushaf yang sudah berurutan ayat dan surahnya. Namun belum ada titik, harakat (baris), nama surah, tanda waqaf, juz, hizb, rubu’, tsumun, tanda ayat sajadah, penomoran ayat, tanda-tanda bacaan tertentu seperti isymam, imalah dan lain sebagainya. Khat yang digunakan adalah khat Kufi yang kaku, sebagai kelanjutan dari khat Nabthi sebagai pelanjut dari khatnya bangsa Smith, yaitu induk dari bangsa-bangsa Arab, Israel dan lain sebagainya yang telah berkembang pada masa pra-Islam.