Tengku Majidddin Jusuf salah seorang alim Aceh yang menaruh perhatian besar dalam mendidik masyarakat untuk mencintai Al-Qur’an, dilahirkan di Peusangan, Aceh Utara, Senin 16 September 1918. Lahir dari seorang ibu bernama Fatimah dan ayah bernama Jusuf bin Atjeh bin Polem (lebih dikenal dengan panggilan Fakir Jusuf atau Ma’ Oesoeh). Tengku Mahjiddin memiliki saudara sekandung bernama Mansur dan Abdullah, sedangkan saudara dari ibu tirinya (Atiyah) berjumlah sembilan orang. Dia sendiri pernah menikah tiga kali, pertama dengan Romlah (beranak tiga), kedua dengan Aisyah Razak (beranak tujuh), dan ketiga dengan Rawiyah (tidak dikaruniai anak).

Tengku Haji Umar bin Auf (lebih dikenal dengan nama Tengku Chik Umar atau Tengku Chik di Lam U) menikah dengan Hj. Shafiah dan melahirkan Tengku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (lebih dikenal dengan panggilan Tengku Abu Indrapuri) pada tanggal 3 Juni 1888 M/23 Ramadan 1305 H di kampung Lam U, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Tengku Haji Umar bin Auf termasuk salah seorang alim ternama, khususnya dalam ilmu fikih, dan seorang hafiz Al-Qur’an yang hidup pada masa Sultan Alauddin Mahmud Syah (1870-1873), sedangkan Tengku Haji Ahmad Hasballah adalah anak pertamanya. Dari ibu yang sama, Tengku Haji Ahmad Hasballah mempunyai satu adik bernama Tengku Muhammad Dahlan (lahir 1891), sedangkan dari ibu kedua (Nyak Sunteng, dari Lam U) dikaruniai adik bernama Tengku Haji Abdullah Umar Lam U (1888-1967) dan dari ibu ketiga (berasal dari Niron Aneuk Bate) dikaruniai adik bernama Tengku Abdul Hamid (dikenal dengan Tengku Aneuk Bate, lahir tahun 1894).

Pada tahun 1998/1999 Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an yang berada pada Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang Departemen (sekarang Kementerian) Agama menyusun buku Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dengan Rasm Usmani. Ketika membahas istilah dan tarjih riwayat, disebutkan dalam buku tersebut bahwa sebagaimana dalam disiplin ilmu hadis ada istilah asy-Syaikhan (dua guru besar) yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim, dalam fiqh Syafi’iyah yang dimaksud adalah Imam Nawawi dan Imam Rafi’i, maka dalam ilmu rasm yang dimaksud adalah Abu Amr ad-Dani (w. 444 H) dan Abu Daud (w. 496 H).

Mungkin sudah banyak yang melupakan medote baca Qur’an ini. Sejak munculnya metode baca Iqra’ pada tahun 1980-an, perlahan-lahan Qa’idah Bagdadiyah kehilangan ‘gigi’-nya. Apalagi, kemunculan Iqra’ kemudian segera memancing tumbuh suburnya metode-metode baca lainnya, seperti al-Barqi, Hatta’iyah, an-Nur, Tilawati, Ummi, dan (sepertinya) belasan lainnya. Sebelum Iqra’, sebenarnya metode Qira’ati muncul lebih dahulu – bahkan sebenarnya Iqra’ diilhami oleh Qira’ati – namun sebagai ‘gerakan’, Iqra’ lebih masif, sehingga benar-benar menjadi fenomena baru pada waktu itu. Sejak itu, metode baca Qur’an yang dianggap lebih sistematis itu digunakan di hampir semua kalangan, juga tentu saja sekolah-sekolah.

Pernahkah Anda mendengar "Mushaf Indonesia"? Inilah mushaf (atau 'mashaf', begitu dalam Qur'an ini disebut) yang ditulis atas prakarsa Dr Haji Ibnu Sutowo, sekaligus sebagai 'pemilik naskah asli' (demikian ditulis pada catatan yang sangat informatif di awal mushaf). Ibnu Sutowo pada tahun 1970-an dikenal sebagai 'raja minyak', dan pendiri Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) di Jakarta Selatan.