KH. Abdul Manan Syukur adalah putra keempat dari tujuh bersaudara, lahir dari pasangan KH. Abdul Syukur dan Nyai Hj. Mas‘adah pada tanggal 24 April 1925 di Desa Kraden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dia satu-satunya dari tujuh bersaudara yang hafal Al-Qur'an. Dari jalur ibunya, Kiai Manan generasi ke-9 dari Ki Ageng Kasan Besari, pendiri pesantren di Tegalsari, Ponorogo. Konon, pesantren inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya pesantren-pesantren di Pulau Jawa. Dari jalur ayahnya, Kiai Manan generasi ke-11 dari Sunan Bayat, salah satu tokoh penyebar Islam pada masa kerajaan Demak (abad ke-16). Kiai Manan menikah dengan Umi Hasanah di usia 29 tahun, pada Desember 1954. Pernikahan itu dikaruniai lima anak yang hafal Al-Qur'an, yaitu Hj. Maftuhah, Ummu Zahrah, H.M. Choirul Amin, Musyarafah, dan Nur Lailiyah, M.Si.

KH. Yusuf Junaedi lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, tahun 1921, dari pasangan Kiai Junaedi dan Nyai Hafsah. Tanggal dan bulan kelahirannya terdapat perbedaan, antara 5 Mei 1921 di Kartu Tanda Penduduk tahun 1973 dan 5 Maret 1921 di kartu peserta Taspen. Kiai Junaedi dikaruniai sembilan anak yang semuanya hafiz Al-Qur'an, dan KH. Yusuf Junaedi adalah anak yang kelima. Kesembilan anak Kiai Junaedi bernama Sonhaji Junaedi, Asy‘ari Junaedi, Zainal Abidin Junaedi, Ruqayah Junaedi, Yusuf Junaedi, Wahidatun Junaedi, Zahrotun Junaedi, Muwafiq Junaedi, dan Tahrir Junaedi. KH. Yusuf Junaedi diceritakan hafal Al-Qur'an saat berusia 9 tahun melalui KH. Ahmad Badawi. Pernikahan pertamanya bersama putri Kiai Mimbar, Kaliwungu tidak berlangsung lama, karena istrinya meninggal dunia saat melahirkan anaknya. Pernikahan keduanya bersama Hj. Asiyah pada sekitar tahun 1947 adalah ketika dia berguru ke kampung Karangjongkeng, Brebes.

Salah satu masalah krusial dalam meneliti mushaf Al-Qur’an cetakan adalah sedikitnya penerbit yang mencantumkan tahun cetakan. Ini tidak seperti cetakan buku bacaan biasa yang di halaman bagian depan buku hampir selalu mencantumkan cetakan keberapa dan tahun berapa.

Sebagai contoh, sebuah mushaf yang penulis beli di sebuah toko di dekat Masjid Agung Surakarta pada 16 Agustus 2016 lalu. Mushaf yang diterbitkan oleh sebuah penerbit di Surakarta ini tidak mencantumkan tahun cetak, sehingga sulit untuk memastikan tahun berapa dicetak. Kondisi mushaf masih baru, dan pasti belum lama masuk di pasar. Satu-satunya penanggalan yang ada pada mushaf ini tercantum di tanda tashih. Mushaf ini ditashih pada 6 Maret 1989, dengan nomor P.III/TL.02.1/057/1989 (lihat Gambar).

Pasangan KH Muhammad Amin dan Nyai Hj. Ruqayyah melahirkan seorang anak laki-laki pada tanggal 27 Sya‘ban 1347 H, bertepatan dengan bulan Juni 1920 M. Anak tersebut kelak dikenal dengan Abuya KH Muhammad Dimyati. Pendidikan agama sejak dini diterima Abuya dari ayahnya. Setelah bersekolah di Verpolg School, selain masih mengaji dengan ayahnya, Abuya juga mengaji kepada KH Zuhdi (menantu Kiai Madjid). Tamat dari Verpolg pada tahun 1936, para gurunya menyarankan Abuya untuk melanjutkan ke HIS, namun Abuya memilih mengaji di pesantren sesuai dengan pilihan ayahnya. Pada tahun 1942 Abuya melanjutkan sekolah di Pesantren Kadupeusing, Kelurahan Kabayan, Kecamatan Pandeglang, Banten, di bawah asuhan Abuya KH Tubagus Abdul Halim bin KH Tubagus Muhammad Amin dengan beberapa asistennya, seperti KH As‘aduddin, KH Muslim, dan KH Ace Syazili.

Dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke-26 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 30 Juli-6 Agustus 2016, Lajnah menerbitkan katalog Khazanah Mushaf Al-Qur'an Nusa Tenggara Barat. Buku kecil ini memberikan gambaran singkat mengenai tradisi mushaf Al-Qur’an di Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan penelusuran berbagai koleksi, baik di Pulau Lombok, Sumbawa, dan tempat lainnya, terkumpul 29 naskah mushaf seperti yang terkumpul dalam katalog ini. Tentu jumlah ini merupakan angka sementara, karena masih ada koleksi di tangan masyarakat yang belum terdokumentasi. Ke-29 mushaf yang terhimpun dalam katalog ini diklasifikasi dalam lima kelompok, yaitu mushaf asal Kesultanan Bima 2 naskah, mushaf asal Kesultanan Sumbawa 5 naskah, mushaf koleksi Museum Negeri NTB di Mataram 15 naskah, koleksi mushaf yang tersebar di beberapa tempat 5 naskah, serta 2 naskah tambahan lainnya merupakan cetakan Singapura abad ke-19 yang disalin oleh penulis asal Sumbawa.