1. Mushaf 07.1548. Mushaf ini berukuran 23 x 33 cm, sementara bidang teksnya berukuran, 13 x 23 cm. Jumlah halaman juz terdiri antara 17 hingga 18 halaman. Setiap halamannya terdiri dari 17 baris. Keadaan mushaf ini masih lengkap dari Surah al-Fatihah hingga surah an-Nas walaupun sebagian khususnya bagian depan dan belakang ada yang di makan serangga. Sampul terbuat dari bahan kulit dengan kondisi agak berjamur. Tinta yang digunakan untuk bagian dalam ada tiga, merah, hitam, dan kuning. Tinta hitam untuk tulisan teks Al-Qur’an, tinta merah digunakan untuk menandai awal juz baik dalam teks ataupun di luar teks. Sedangkan warna kuning untuk membuat bulatan penanda ayat, warna kuning juga digunakan untuk pelengkap dalam iluminasi seperti terdapat pada surah al-Fatihah dan awal surah al-Baqarah serta warna pada bingkai ayat pada tiap halaman.

Penelitian Mushaf Al-Qur’an kuno yang dilakukan pada tahun 2013 difokuskan di Museum Negeri Aceh. Museum ini menyimpan 87 mushaf, 14 di antaranya berhasil didigitalisasi dan diteliti. Deskripsi masing-masing naskah adalah sebagai berikut:

Di Pulau Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, terdapat 10 mushaf kuno. Lima mushaf telah diuraikan oleh Mustofa (lihat Bagian 1). Berikut adalah deskripsi lima mushaf lainnya.

Sumatera Barat dapat dikatakan kaya dengan naskah kuno, termasuk Al-Qur’an, yaitu sebanyak 45 naskah yang disimpan oleh beberapa lembaga dan perorangan. Hal ini berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan M. Yusuf dan timnya. Adapun Museum Adityawarman, Padang, mengoleksi 13 manuskrip Al-Qur’an dengan kondisi yang cukup baik, meskipun dari sisi kelengkapan, hanya sedikit saja yang lengkap 30 juz. Koleksi manuskrip Al-Qur’an terawat dengan baik, dan masih ada beberapa koleksi yang belum terinventarisir oleh petugas koleksi museum.

Selain di Pulau Penyengat, manuskrip Al-Qur’an juga terdapat di Pulau Lingga. Di pulau ini jumlah manuskrip Al-Qur’an terbilang cukup banyak, terutama jika dibandingkan yang terdapat di Pulau Penyengat. Posisi geografis yang cukup jauh dari pusat kota dan pemerintahan Kepulauan Riau, membuat lalu lintas kunjungan ke Pulau Lingga tidak sebanyak ke Pulau Penyengat, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan pulau ini, seperti sejarah kesultanan, bekas reruntuhan bangunan, masjid, benda-benda peninggalan kesultanan lainnya, hingga manuskrip Al-Qur’annya, kurang dikenal luas oleh masyarakat sebagaimana Pulau Penyengat.