Al-Qur’an berulang kali menyebut dan mengenalkan laut, samudra, pantai, muara, dan berbagai hal terkait dengan laut. Sangat menakjubkan bahwa Al-Qur’an berbicara banyak tentang laut, padahal kitab suci ini diturunkan di wilayah padang pasir, bahkan tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan adanya ayat yang diturunkan di tengah samudra. Walau demikian, Al-Qur’an begitu jelas menerangkan keterkaitan antara kehidupan manusia dengan eksistensi laut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya laut dalam kehidupan manusia. Bukan sekadar menunjukkan kekuasaan Allah, namun laut memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia, mulai dari fungsi prasarana transportasi, wisata bahari, penyedia sumber protein, sumber energi pembangkit listrik dan energi, penyedia komoditas yang bisa diperoleh dari laut, bahkan menjadi media inspirasi dalam banyak hal.

Sampai saat ini, misteri kehidupan di bawah permukaan laut masih banyak yang belum tersingkap oleh pengetahuan dan nalar manusia. Sangat wajar jika Allah mengulang-ulang pertanyaan kepada manusia yang tidak mensyukuri nikmat Allah Yang Mahakasih:

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?
Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?
Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?
(Ar-Rahman/55:18-25)

Laut yang memberi banyak manfaat kepada manusia ternyata juga berpotensi sebagai bencana yang sangat mengerikan. Informasi ini tidak hanya diperoleh dari Al-Qur’an, tetapi terjadi nyata di hadapan kita berupa peristiwa-peristiwa di belahan dunia, mulai dari badai dan gelombang laut yang menerpa perkampungan-perkampungan di pesisir pantai, erosi dan abrasi laut, sampai tsunami yang memorakporandakan apa saja yang dilaluinya. Kejadian tersebut sebagian diakibatkan ulah manusia, dan sebagian lagi merupakan peristiwa alam untuk menunjukkan ketidakberdayaan manusia di hadapan Pencipta. Di masa lampau terdapat penguasa ingkar (Fir’aun) yang ditenggelamkan di laut karena keingkarannya.

Foto dampak tsunami Aceh, 26 Desember 2004.
(http://sains.kompas.com/read/2014/12/26/11165501/Bukan.Tsunami.yang.Mengancam.Kita)

Berbagai bencana telah muncul akibat tangan-tangan manusia. Kerusakan tersebut antara lain karena terjadi penghancuran hutan-hutan bakau (mangrove), pembuangan sampah atau limbah yang sulit diurai oleh alam, penebangan hutan secara serampangan (illegal logging), industri wisata yang tidak berwawasan lingkungan, perusakan terumbu karang, penambangan pasir pantai, pengeboman ikan, serta berbagai tindakan lainnya yang mengakibatkan kerusakan dan bencana yang berhubungan dengan laut. Allah berfirman:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat perbuatan) mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum/30:41)

Seekor burung pelikan coklat berenang di laut yang terkena tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Ratusan burung pelikan mengalami nasib yang sama. (REUTERS/Sean Gardner. http://www.tempo.co/read/news/2013/05/03/061477721/Burung-Laut-Menjadi-Indikator-Pencemaran-Sampah)

Karena fungsi laut dan samudra yang begitu besar, manusia harus menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya sumber daya di dalamnya sehingga tercipta harmoni kehidupan, antara manusia dengan alam lingkungannya. Manusia boleh memanfaatkan apa yang ada di bumi sepanjang tidak merusak atau menghancurkan harmoni alam yang dihuni bersama makhluk-makhluk Allah yang lain, sehingga kelestariannya terjaga untuk kemudian dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Kegagalan manusia dalam menjaga keseimbangan alam berpotensi menyebabkan terjadinya kerusakan alam.